,

Translate

Perayaan Waisak 2570 BE di Lapangan Benteng, Rico Waas Ajak Warga Medan Jaga Harmoni dan Sebarkan Kedamaian

Rubrikrakyat.co.id
14/06/2026, 08.38 WIB Last Updated 2026-06-14T03:12:01Z

 

Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Medan. 

Rubrikrakyat.co.id, Medan – Suasana khidmat dan penuh keteduhan menyelimuti Lapangan Benteng Kota Medan pada Sabtu malam (13/6/2026). Ribuan cahaya lilin dan pelita perdamaian menerangi lokasi tersebut, menjadi saksi perayaan Hari Raya Waisak tahun 2570 BE atau 2026 Masehi. Dalam momen istimewa ini, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan perayaan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan momentum berharga untuk menumbuhkan kedamaian mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan tempat tinggal.

 

Mengusung tema “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan”, kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan khidmat. Turut hadir mendampingi Wali Kota, yaitu Ketua TP PKK Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, Ketua DPRD Kota Medan Wong Chun Sen, Sekretaris Daerah Kota Medan Wiriya Alrahman, serta Dandim 0201/Medan Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo.

 

Keikutsertaan unsur Forkopimda, Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum, Ketua Walubi Kota Medan Arman Chandra, para Bhikkhu Sangha, pimpinan perangkat daerah, serta tokoh lintas agama semakin memperkuat makna kebersamaan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas Kota Medan.

 

Dalam sambutannya, Rico Waas menegaskan bahwa esensi perayaan Waisak jauh melampaui rangkaian upacara belaka. Hari raya ini menjadi momen refleksi bagi setiap individu untuk memperbaiki sikap, menebarkan kebaikan, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Mari kita jadikan Waisak sebagai waktu untuk membersihkan hati dari rasa iri, dengki, kebiasaan menyalahkan orang lain, dan emosi yang meluap-luap. Hanya dengan begitu, suasana damai dan tentram dapat tercipta di mana pun kita berada,” ujar Rico Waas.

 

Ia juga menambahkan bahwa kedamaian sejati tidak dapat diukur dari harta kekayaan atau jabatan yang dimiliki. Sebaliknya, kedamaian lahir dari kemampuan hidup dengan penuh cinta kasih, saling menghargai, dan menghormati segala perbedaan yang ada. “Ketika kita bisa hidup rukun dan saling menghormati, di situlah kedamaian yang sesungguhnya terasa,” tegasnya.

 

Sementara itu, Ketua Walubi Kota Medan Arman Chandra menyampaikan bahwa keharmonisan antarwarga dari berbagai latar belakang adalah fondasi utama kemajuan ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini. Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini menjadi pengingat penting agar nilai-nilai moral tetap terjaga di tengah derasnya arus perubahan zaman.

 

“Perdamaian tidak lahir dari kesamaan semata, melainkan dari kemampuan kita untuk hidup berdampingan meski berbeda. Perayaan Waisak ini juga menjadi bukti nyata bahwa Medan adalah kota yang identik dengan persaudaraan yang kokoh,” jelas Arman Chandra.

 

Ia juga mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Kota Medan yang selalu memfasilitasi setiap kegiatan keagamaan. “Bagi kami, langkah nyata Pemko Medan ini membuktikan bahwa kenyamanan dan kebebasan beribadah adalah hak yang dijamin bagi seluruh warga tanpa terkecuali,” tambahnya.

 

Puncak perayaan ditandai dengan penyalaan api obor dan pelita perdamaian yang dilakukan secara bersama oleh Wali Kota, Wakil Wali Kota, unsur Forkopimda, serta tokoh agama. Simbol cahaya ini diharapkan dapat membawa semangat harapan, keharmonisan, dan toleransi ke seluruh penjuru kota. Acara dilanjutkan dengan pelepasan pawai Waisak yang diikuti ratusan umat Buddha, melengkapi rangkaian perayaan yang berjalan dengan aman dan penuh kebersamaan. (SN)