,

Translate

Hapus Kebocoran Anggaran, Rico Waas Luncurkan Sistem Digital Pasar Tradisional

Rubrikrakyat.co.id
25/06/2026, 18.09 WIB Last Updated 2026-06-25T13:09:24Z
Foto : Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat meluncurkan Sistem Pembayaran Kontribusi dan Digitalisasi Pasar Tradisional Petisah, Kamis (25/6/2026), didampingi jajaran PUD Pasar Kota Medan.


Rubrikrakyat.co.id, Medan – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas secara resmi meluncurkan Sistem Pembayaran Kontribusi dan Digitalisasi Pasar Tradisional Petisah, Kamis (25/6/2026). Terobosan ini bertujuan merombak total manajemen pasar agar lebih modern, profesional, transparan, serta bebas dari kebocoran anggaran.

 

Dalam sambutannya, Rico Waas mengakui banyak warga mulai enggan ke pasar tradisional karena dinilai kurang berubah dan kurang nyaman dibanding pasar modern. Apalagi saat ini pola belanja berubah cepat dan serba gawai.

 

“Masyarakat bilang kurang nyaman, bentuknya kurang ada perubahan. Sekarang zaman serba visual, belanja pun bisa lewat HP,” ujarnya.

 

Menurutnya disrupsi teknologi tak bisa dibendung. Oleh karena itu PUD Pasar Kota Medan harus bergerak masif beradaptasi agar kinerja makin profesional dan bisa dipertanggungjawabkan.

 

Salah satu poin utama perubahan ini adalah sistem pembayaran kontribusi pedagang. Selama ini hal tersebut kerap menjadi sorotan DPRD karena rentan kebocoran. Melalui kerja sama dengan Bank Mandiri, seluruh pembayaran pedagang akan langsung masuk ke rekening PUD Pasar tanpa perantara.

 

“Semua pembayaran jelas, tak ada lagi potong di tengah. Langsung masuk dan bisa dipantau setiap hari secara nyata,” tegas Rico Waas.

 

Ia mengapresiasi langkah Direktur Utama beserta jajaran PUD Pasar dan mengajak tak ragu berubah demi kebaikan bersama. “Ini langkah awal, perubahan tak mudah namun harus dilakukan karena pasar milik masyarakat Medan,” bilangnya. 

 

Sementara itu Dirut PUD Pasar Kota Medan Anggia Ramadhan menyatakan program ini bukan sekadar ganti cara bayar tunai ke nontunai, melainkan pondasi reformasi tata kelola pasar yang lebih besar.

 

“Ini semangat mewujudkan pemerintahan dan BUMD yang bersih. Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan supaya pasar tetap bersaing di tengah ritel modern dan e-commerce,” tutupnya. (SN)